Teologi Negosiasi

 

Yesaya 38:1-22

Selama pandemi Covid 19 hampir setiap hari kita mendengar berita duka, baik menyangkut saudara, tetangga, sahabat, dan kenalan kita, maupun berita duka yang dikumandangkan melalui media sosial dan lingkungan tempat tinggal kita. Hal ini tentu sangat menyedihkan dan sekaligus menakutkan. Reaksi orang terhadap situasi mencekam ini bermacam-macam. Ada yang mengurung diri secara total, ada yang menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa. Yang terakhir ini bukannya tidak sadar akan bahaya, tetapi kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa hidup mati adalah keputusan Tuhan. Kalau memang sudah jadwalnya mati, ya bagaimana pun akan mati. Sebaliknya, kalau belum jadwalnya, betapa pun teledornya pasti akan selamat. Sikap seperti itu sering disebut fatalisme. Banyak sekali orang Indonesia menganut fatalisme. Sambutan-sambutan dan khotbah-khotbah pada peristiwa kematian sering menyiratkan fatalisme. Meskipun keberadaan kita dalam kematian tidak pernah jelas, dan kita cenderung memilih tetap hidup ketimbang mati saat ini (kecuali kalau sudah terlalu tua dan menderita), biasanya kita tidak yakin bahwa umur bisa dinegosiasikan. Kita menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan kapan kita mati, karena kita yakin bahwa Tuhan pasti memiliki pertimbangan yang terbaik, dan keputusannya tidak dapat diganggu gugat.

Teks Yesaya 38:1-22 menarik karena menceritakan tentang Raja Hizkia yang semula sudah dijadwalkan untuk mati, tetapi kemudian meminta perpanjangan umur kepada Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan! Hidup Hizkia diperpanjang 15 tahun. Ternyata Tuhan terbuka untuk negosiasi juga tentang umur.

Saya sendiri punya pengalaman sakit pada tahun 1997 yang cukup lama tidak terdeteksi (setelah beberapa bulan baru ketahuan, hipertiroiditis). Pada waktu penyakit saya belum jelas, saya berdoa terus minta kesembuhan, demikian juga banyak rekan pendeta dan jemaat saya terus mendoakan dalam doa syafaat kebaktian minggu, tetapi saya tidak kunjung sembuh. Setelah capek berdoa minta sembuh, saya mulai berusaha untuk menerima kemungkinan terburuk. Saya tetap berdoa tetapi isi doa saya tidak lagi minta sembuh. Setiap malam saya hanya bersyukur bahwa selama 42 tahun saya boleh hidup relatif sehat. Saya tidak lagi minta disembuhkan karena saya merasa permintaan semacam itu tidak cukup tahu diri. Ketika sudah pasrah untuk tidak sembuh, ternyata penyakit saya ketahuan dan dapat diobati dengan tepat. Saya malah sembuh dan sehat sampai sekarang, puji Tuhan!  Dari pengalaman saya, berserah kepada kehendak Tuhan dan tidak lagi mendesakkan keinginan kita bisa juga justru menghasilkan terkabulnya kehendak kita.

Dari cerita Hizkia, saya belajar bahwa sikap kita terhadap Tuhan tidak harus begitu pasif. Orang boleh saja bernegosiasi dengan Tuhan, dan bukan tidak mungkin Tuhan mengubah keputusannya. Kehendak Tuhan tidak selalu bersifat harga mati. Tuhan ternyata tidak terlalu kaku dan tidak memutuskan segala sesuatu sendirian saja. Kita boleh terlibat untuk menentukan nasib kita sendiri dan nasib keluarga, komunitas dan bangsa kita. Logikanya, kalau umur saja bisa dirundingkan, semua yang lain juga bisa, termasuk jodoh, rejeki dan nasib bangsa. Maka, iman tidak hanya berarti mengakui kebesaran, kekuasaan dan kesempurnaan Tuhan, sehingga tidak ada sikap lain yang layak di hadapannya kecuali sujud menyembah, memuji Dia dan mengamini setiap keputusannya. Iman juga berarti keberanian untuk menyapa Tuhan secara terbuka dan, kalau perlu, berunding dengan Dia dalam mengelola kehidupan ini. Sedikit sok tahu di hadapan Tuhan, seperti Hizkia, ternyata nggak apa-apa. Tuhan tidak cukup tinggi hati untuk menghukum orang yang sok tahu (bukankah semua pendeta juga sedikit banyak sok tahu ketika mengkhotbahi dan menasihati jemaat?).

Jadi, iman, saya kira, adalah keseimbangan antara menerima tanpa perlawanan apa pun keputusan Tuhan dan kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan keinginan kita kepada Tuhan. Antara menerima nasib dan memperjuangkan nasib. Kita tidak perlu terlalu agresif memaksa dan menuntut Tuhan, seolah-olah Tuhan bisa dipojokkan untuk memenuhi keinginan kita. Bagaimana pun mengakui kemahabenaran Tuhan dan mempersilakan Dia untuk menjadikan kehendaknya atas hidup kita adalah bagian inti dari iman. Tetapi menyatakan pendapat, keinginan, atau proposal kita kepada Tuhan juga bagian dari dinamika hidup beriman. Doa-doa yang dengan jujur menyampaikan semua itu, tidak boleh dianggap sekadar tindakan psikologis atau ritualisme yang tidak punya khasiat langsung. Begitu juga upaya-upaya untuk memelihara hidup ini. Dalam konteks pandemi itu termasuk menjaga kebugaran fisik dan mental, memperkuat sistem imun, menghindari acara kumpul2, dan menolong orang-orang yang lebih rawan terserang virus. Semua itu dapat menjadi bagian dari negosiasi kita dengan Tuhan agar hidup kita dan hidup sesama kita bisa diperpanjang. Semoga Tuhan yang mendengar Hizkia juga mendengar kita.   

Comments

Popular posts from this blog

Tak seorang pun aman, kecuali semua orang aman