Tak seorang pun aman, kecuali semua orang aman

 

Amsal 23:18


Motto yang sering diucapkan terkait pandemi COVID-19 adalah “no one is truly safe until everyone is safe.” Pengalaman selama pandemi membuktikan kebenaran dari motto ini ketika setiap upaya untuk mencari selamat sendiri bukan hanya sia-sia tetapi juga membuat pandemi tidak kunjung selesai. Negara-negara kaya memborong vaksin yang jumlahnya masih terbatas dan berusaha mengimunisasi rakyatnya sendiri sementara membiarkan mayoritas rakyat di negara-negara miskin tanpa vaksin. Maunya, dengan demikian negara-negara mereka sendiri terbebas dari virus, masa bodoh dengan negara-negara lain. Tetapi yang terjadi adalah muncul varian-varian baru virus yang lebih menular di negara-negara yang kurang divaksin, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia dan menimbulkan kepanikan global termasuk di negara-negara yang punya banyak vaksin.

Jelas dari fenomena itu bahwa pandemi tidak dapat diatasi sendiri-sendiri oleh suatu negara, kelas sosial, atau kelompok agama. Virus tidak mengenal diskriminasi berdasarkan bangsa atau SARA. Pandemi, sama seperti banyak masalah global yang lain (termasuk kemiskinan, kerusakan lingkungan, genosida, dan kejahatan seksual), harus diatasi oleh seluruh umat manusia secara bersama-sama. Di sisi lain kita menyaksikan bahwa meskipun virus SAR Cov 2 menyebar ke seluruh dunia dan menembus segala kalangan, sebagian besar penduduk dunia dapat diselamatkan baik oleh daya tahan tubuhnya sendiri maupun oleh bantuan vaksinasi. Maka, pemikiran bahwa keselamatan dari serangan virus hanya mungkin bagi sedikit orang yang punya posisi istimewa, sama sekali tidak terbukti. Indeed, no one is truly safe, until everyone is safe.

Cukup banyak orang Kristen menganut teologi keselamatan yang sempit: seolah-olah kuota keselamatan yang disediakan Tuhan sangat terbatas dan hanya dapat dinikmati oleh sedikit saja dari kalangan sendiri yaitu “umat pilihan”, cq orang-orang Kristen yang sejati, people of special edition. Gambarannya, sebagian terbesar manusia dan semua makhluk selain-manusia tidak akan selamat, karena mereka dianggap sejak awal didesain untuk binasa. Teologi keselamatan yang sempit ini telah menghasilkan bukan hanya keangkuhan rohani yang membuat orang-orang Kristen melecehkan kepercayaan-kepercayaan lain dan menjadikan para penghayatnya sekadar objek proyek penaklukan, tetapi juga telah memberikan pembenaran bagi bangsa-bangsa bertradisi Kristen untuk menjajah dan memerangi bangsa-bangsa lain yang dianggap penyembah-penyembah berhala yang layak dieksploitasi. Selain itu, yang mungkin kurang disadari, konsep keselamatan yang sempit juga terkait dengan tradisi perusakan terhadap lingkungan alam dan kekejaman terhadap binatang. Sebab, jika alam dan mahluk non-manusia tidak termasuk dalam karya penyelamatan Allah, mengapa manusia mesti peduli?

Pengalaman dengan pandemi selama hampir 2 tahun ini seharusnya menyadarkan kita bahwa bukan begitu cara Tuhan bekerja. Tuhan tidak memberikan pengetahuan kepada ilmuwan untuk menciptakan vaksin yang hanya efektif bagi ras, bangsa, atau penganut agama tertentu untuk melawan virus yang menginfeksi semua ras, bangsa, dan penganut agama. Saya yakin bahwa vaksin Covid-19 adalah karya Tuhan, pencipta dan penyelamat dunia, melalui para ilmuwan, karena efektifitasnya menjangkau semua orang tanpa membeda-bedakan kebangsaan maupun keyakinan. Begitulah pola kerja Tuhan. Teori keselamatan yang sempit tidak cocok dengan pola itu! Maka setiap upaya, proyek, atau produk yang dibuat dengan pemikiran bahwa hanya orang-orang tertentu, kalangan sendiri, umat pilihan, manusia edisi khusus yang punya privilege menikmati, bukanlah bagian dari karya penyelamatan Allah.

Teologi keselamatan kita berpengaruh pada etika sosial dan etika profesi kita. Jika kita percaya bahwa Tuhan hanya peduli pada nasib sedikit orang saja, maka kita tidak punya alasan untuk membangun solidaritas kepada banyak orang. Solidaritas kita, kalau ada, terbatas hanya pada kalangan sendiri. Di luar itu, perbuatan baik kita tidak lebih dari pencitraan. Jika kita percaya bahwa Tuhan hanya menyelamatkan manusia dan tidak binatang maupun unsur-unsur alam yang lain, maka kita tidak punya alasan yang kuat untuk sungguh-sungguh ikut dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan. Kegaduhan kita dalam membuat acara-acara dengan tema lingkungan tidak akan konsisten dengan gaya hidup kita sehari-hari. Semua itu hanyalah kemunafikan religius yang sudah lama menjadi bahan olok-olokan kalangan sekuler.

Amsal 23:18 memberikan pernyataan yang optimistik: “karena masa depanmu sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Pernyataan itu melegakan, tetapi bukan tanpa syarat. Masa depan yang layak diharapkan itu hanya tersedia jika kita mengindahkan hikmat atau kearifan. Masalahnya, kearifan bukan satu-satunya jalan yang tersedia bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan pada pilihan: kearifan atau kebodohan. Kearifan membuat kita melihat diri kita sebagai bagian dari kehidupan bersama sesama manusia dan ciptaan-ciptaan selain-manusia. Sendiri-sendiri kita adalah microcosmos (jagat kecil) yang bersama-sama membentuk macrocosmos (jagat besar). Mengira dapat hidup semata-mata demi kenyamanan diri sendiri dan mengabaikan keterkaitan kita dengan mikrokosmos-mikrokosmos yang lain adalah sebuah kebodohan.

Hidup dengan kearifan tidak selalu lebih praktis apalagi ekonomis. Tanpa visi yang kuat, kearifan akan tampak sebagai kebodohan, dan kebodohan seolah-olah merupakan pilihan yang cerdas. Visi yang terkandung dalam teologi keselamatan yang sempit menjebak umat dalam kebodohan yang menyakiti lingkungan sosial dan merusak lingkungan alam. Maka marilah kita jadikan pengalaman dengan pandemi ini untuk lebih mengenal pola kerja Tuhan, pencipta dan penyelamat dunia, dan menyehatkan teologi keselamatan kita, karena “no one is truly safe, until everyone is safe.”   



Comments

Popular posts from this blog

Teologi Negosiasi